PT Tokio Sentral Asia kembali membawa sejumlah lini usahanya ke ajang IFBC 2026. Tidak hanya bergerak di kuliner Jepang, perusahaan ini menaungi beberapa konsep bisnis dengan karakter berbeda, mulai dari Tokio Street, Tokio Go, Washmart, Makashiya, hingga I’am Story Fried Chicken. Keberagaman tersebut membuat pilihan bisnis yang ditawarkan tidak terpaku pada satu jenis usaha saja.
Tokio Street dan Tokio Go menjadi bagian dari lini kuliner bernuansa Jepang yang dikembangkan perusahaan. Tokio Street mengusung menu seperti takoyaki, okonomiyaki, tamagoyaki, dan gyoza, sementara Tokio Go menawarkan konsep usaha yang lebih mengarah pada sistem otomatis dan pendapatan pasif. Dalam materi yang dibawa ke pameran, Tokio Go juga ditampilkan melalui paket Takashirame dan Takashihappy dengan skema kemitraan yang berbeda.
Di luar F&B, Washmart hadir dengan konsep layanan pencucian kendaraan modern. Sementara itu, Makashiya membawa format coffee shop dan dining bernuansa Jepang dengan pilihan menu yang lebih luas. Portofolio tersebut menunjukkan bagaimana PT Tokio Sentral Asia mengembangkan bisnis dari kuliner hingga layanan yang menyasar kebutuhan sehari-hari.
Sementara I’am Story Fried Chicken menjadi salah satu lini kuliner lain yang ditawarkan perusahaan. Dari materi kemitraannya, I’am Story mengusung konsep outlet berukuran sekitar 4,5 x 15 meter dengan sistem operasional yang dirancang lebih praktis. Materi tersebut juga menonjolkan konsep autopilot, sehingga pengelolaan usaha tidak sepenuhnya bergantung pada keterlibatan pemilik setiap hari.
Melalui kehadirannya di IFBC 2026, PT Tokio Sentral Asia memperlihatkan portofolio usaha yang cukup beragam dalam satu perusahaan. Mulai dari street food Jepang, konsep investasi berbasis otomasi, coffee shop, layanan pencucian kendaraan, hingga fried chicken, masing-masing menawarkan karakter dan model operasional yang berbeda bagi masyarakat yang sedang mencari peluang usaha.

