Kuliner khas daerah menjadi salah satu sektor yang terus berkembang dalam industri waralaba dan kemitraan. Melalui SSB Hj. Hesti, PT Sari Songgo Bawono membawa pengalaman bisnis kuliner Soto Boyolali ke ajang IFBC 2026 Surabaya, sekaligus memperkenalkan konsep kemitraan dengan prinsip syariah.
SSB Hj. Hesti menyebut telah memiliki lebih dari 80 outlet yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam materi kemitraannya, perusahaan menawarkan konsep bisnis dengan sistem terpusat, pengelolaan autopilot, serta skema kerja sama yang mengedepankan prinsip syariah. Calon mitra juga disebut dapat memantau perkembangan usaha melalui sistem yang disediakan.
Dari sisi operasional, kemitraan mencakup sejumlah tahapan mulai dari konsultasi, pengenalan sistem, pengisian formulir, penentuan lokasi, pelaksanaan akad, hingga persiapan pembukaan outlet. Setelah outlet berjalan, terdapat mekanisme pengembalian modal yang dalam materi disebut dimulai dua bulan setelah peluncuran.
SSB Hj. Hesti juga menampilkan simulasi keuntungan berdasarkan nilai modal yang diinvestasikan. Untuk modal mulai Rp500 juta hingga Rp2,5 miliar, materi mencantumkan simulasi pertumbuhan nilai investasi masing-masing hingga Rp570 juta, Rp1,16 miliar, Rp1,77 miliar, Rp2,4 miliar, dan Rp3,05 miliar dalam periode kerja sama dua tahun. Angka tersebut merupakan simulasi dalam materi kemitraan dan bukan jaminan hasil investasi.
Kehadiran SSB Hj. Hesti di IFBC 2026 Surabaya memperlihatkan bagaimana kuliner tradisional dapat dikembangkan melalui model bisnis kemitraan dengan konsep yang lebih terstruktur. Pengunjung dapat mengenal lebih jauh konsep usaha Soto Boyolali sekaligus skema kerja sama yang ditawarkan PT Sari Songgo Bawono selama pameran berlangsung.

